Beranda Nasional Kampung Reforma Agraria Bukit Sinyonya Jadi Ruang Kreatif dan Penggerak Ekonomi Desa...

Kampung Reforma Agraria Bukit Sinyonya Jadi Ruang Kreatif dan Penggerak Ekonomi Desa Bandung

56
0
BERBAGI

PANDEGLANG, BERITAANDALAS.COM – Reforma Agraria tidak hanya memberi kepastian hukum atas tanah, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Di Desa Bandung, Kabupaten Pandeglang, semangat tersebut diwujudkan lewat keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan Desa Wisata Bukit Sinyonya. Pada Januari 2025 lalu, kawasan ini bahkan ditetapkan sebagai salah satu Kampung Reforma Agraria terbaik.

Pengelola Bukit Sinyonya, Asep Adam (25), menuturkan bahwa sejak awal desa ini memiliki potensi ekonomi besar. Namun potensi tersebut sulit berkembang tanpa adanya pemberdayaan melalui program Reforma Agraria, yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengelola sumber daya secara produktif dan berkelanjutan.

“Potensinya sudah ada, tapi kalau tidak dikemas dengan baik tidak akan ada keberlanjutan. Regenerasi juga terhambat. Misalnya saja penganyam, dari dulu ibu-ibu sudah menganyam, tapi sekarang sudah sepuh. Anak muda tidak tertarik untuk meneruskan. Dengan adanya desa wisata ini, ada harapan. Anak muda mulai terlibat,” ujar Asep saat ditemui di Bukit Sinyonya, Senin (22/9/2025).

Sejak ditetapkan sebagai Kampung Reforma Agraria pada 2023, kreativitas generasi muda kian berkembang. Produk anyaman yang semula hanya berupa tas pandan sederhana kini berinovasi menjadi beragam kerajinan, mulai dari sepatu berbahan pandan hingga tas dengan desain kekinian.

“Awalnya ibu-ibu hanya bisa membuat tas. Setelah ada pelatihan dan keterlibatan anak muda, muncul banyak inisiatif. Kreativitasnya lebih tinggi, nilai produknya juga meningkat. Dari ragam bentuk anyaman, harga jualnya pun naik,” tambah Asep yang kini menempuh studi di Prodi Pariwisata, Universitas Terbuka Serang.

Tak hanya soal produk, peran pengrajin pun ikut berubah. Dari yang awalnya hanya fokus pada produksi, kini mereka juga berkesempatan menjadi instruktur.

“Sekarang kami tidak hanya menjual produk, tapi juga mengajarkan keterampilan kepada masyarakat dan pengunjung. Dari pengrajin biasa, kini bisa menjadi instruktur,” jelas Asep.

Pengalaman serupa dirasakan Ani (52), salah satu pengrajin setempat. Menurutnya, menganyam sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sumber penghasilan keluarga.

“Dulu hidup kami cuma dari hutan ke rumah, menganyam. Tidak terpikir soal desa wisata. Dari kecil sudah bisa menganyam, dan sekarang hasilnya bisa dipakai untuk beli kebutuhan, bahkan sepatu baru,” ujarnya.

Ani menambahkan, hasil anyaman turut membantu membiayai pendidikan anak-anaknya. “Terus terang, saya bisa menguliahkan anak juga dari hasil ini. Memang tidak sepenuhnya, tapi sangat membantu,” ungkapnya.

Masyarakat Desa Bandung pun menyadari bahwa Reforma Agraria bukan hanya soal kepemilikan tanah, melainkan bagaimana tanah dan sumber daya dikelola untuk kesejahteraan.

“Saat ini kami sudah berkolaborasi dengan universitas, pihak swasta, dan pemerintah daerah agar desa wisata kami terus berkembang,” tutup Ani. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here