Beranda Sumsel Tanpa Gembar-Gembor, Muchtarim Siap Bertarung di Pemilihan Ketua PWI Lahat

Tanpa Gembar-Gembor, Muchtarim Siap Bertarung di Pemilihan Ketua PWI Lahat

32
0
BERBAGI

LAHAT, BERITAANDALAS.COM – Tanpa panggung, tanpa barisan kamera di lobi, tanpa tepuk tangan yang menggema seolah menyambut pahlawan pulang perang. Seorang wartawan senior, Muchtarim, datang dalam sunyi.

Kamis (25/12/2025) sore, ia memasuki sebuah ruangan sederhana. Tujuannya sederhana pula, mengambil formulir pendaftaran sebagai calon Ketua PWI Lahat. Di ruangan itu, Suparman, perwakilan panitia pelaksana, menyerahkan berkas pendaftaran.

Serah terima dokumen berlangsung singkat. Namun justru di situlah kisah bermula, bukan dari sorot kamera atau mikrofon, melainkan dari niat yang tumbuh dalam diam.

Bagi sebagian orang, momen ini mungkin sekadar formalitas. Namun bagi Muchtarim, hari itu bukan hanya tanggal dalam agenda panitia atau garis awal sebuah kontestasi organisasi.

“Momennya langka dan ini proses baru menuju keseriusan saya mencalonkan diri sebagai Ketua PWI Lahat,” ujarnya kepada awak media, Sabtu (27/12/2025).

Kalimat itu terdengar tenang, namun menyimpan getar tekad. Ia sadar, jalan menuju kursi Ketua PWI Lahat bukanlah lintasan lurus tanpa rintangan. Namun ia memilih hadir apa adanya, tanpa gembar-gembor, tanpa pencitraan.

Keputusan mengambil formulir bukan untuk menunjukkan kehebatan, melainkan menegaskan bahwa niat baik tak selalu butuh sorotan.

“Saya ingin menjadi Ketua PWI bukan berarti saya hebat. Niat saya hanya ingin mempersatukan rekan-rekan PWI,” kata dia.

Di tengah dinamika internal yang tak selalu searah, Muchtarim memilih berdiri di tengah, bukan di atas. Ambisinya bukan sekadar menang, melainkan memastikan tak ada anggota yang merasa tersisih di rumah besar bernama PWI. Ia ingin menjadi jembatan, bukan tembok.

Dukungan pun mengalir, terutama dari tokoh-tokoh senior PWI Sumatera Selatan. Nama-nama seperti H. Ocktap Riady (mantan Ketua PWI Sumsel dua periode), K. Jon Heri, hingga Direktur UKW PWI Pusat Aat Surya Safaat memberi sinyal bahwa langkah Muchtarim mendapat perhatian dari mereka yang paham medan organisasi.

“Dukungan pasti ada. Alhamdulillah ada beberapa tokoh senior PWI Sumsel yang mendukung,” ujarnya singkat.

Bagi Muchtarim, pengambilan formulir hanyalah awal. Harapan terbesarnya adalah proses pencalonan berjalan jujur, terbuka, dan memberi ruang setara bagi semua.

“Setelah pengambilan formulir ini, harapan saya segala bentuk pencalonan dipermudah dan tidak ada rintangan atau pencegahan,” katanya.

Ia menegaskan, PWI Lahat sejatinya sudah berjalan baik. Yang perlu diperkuat adalah persatuan.
“Yang harus diperbaiki adalah mempersatukan rekan-rekan anggota PWI,” ujarnya.

Baginya, PWI bukan sekadar struktur dan program. Ia adalah ruang rasa. Tempat di mana kebersamaan pernah terjalin erat, meski di beberapa masa sempat renggang. Itulah yang ingin ia pulihkan.

“Program prioritas pertama, satukan dulu PWI Lahat. Ketika PWI bersatu, maka program-program akan berjalan,” tegasnya.

Jika dipercaya memimpin, 100 hari pertamanya akan diisi dengan membangun ruang temu, bukan sekadar rapat, tetapi dialog dan kebersamaan. Tanpa persatuan, program hanya akan menjadi daftar kata; tanpa kebersamaan, organisasi kehilangan napas.

Ia juga menaruh perhatian besar pada peningkatan kompetensi wartawan. Uji Kompetensi Wartawan (UKW) menjadi hal yang tak bisa ditawar.

“UKW sangat penting. Lewat UKW kita memahami 5W+1H, kode etik jurnalistik, dan UU Pers,” ujarnya.

Karena itu, ia berkomitmen menghadirkan UKW di Kabupaten Lahat. Sertifikasi bukan untuk dipajang, melainkan sebagai penjaga marwah profesi.

Dalam relasi dengan pemerintah, swasta, dan masyarakat, Muchtarim menekankan pentingnya kolaborasi yang sehat, tanpa kehilangan independensi.

“Kolaborasi yang baik, komunikasi terjaga, dan didasari kepercayaan. Insyaallah hubungan akan baik,” katanya.

Soal digitalisasi, ia tidak menolak arus. PWI, menurutnya, harus aktif mentransformasi jurnalisme ke ranah digital tanpa meninggalkan peran pers sebagai pilar demokrasi.

Ketika ditanya tentang warisan yang ingin ditinggalkan, jawabannya sederhana, yakni kejujuran, kepercayaan, keterbukaan, dan ilmu. Bukan jabatan, bukan pujian. Ia juga membuka ruang luas bagi wartawan muda. Bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai pewaris masa depan PWI.

“Membangun emosional dan memperkenalkan masa depan PWI ke wartawan muda,” ujarnya.

Di akhir percakapan, satu kalimat menggambarkan hubungannya dengan organisasi ini,
‘PWI ibarat rumah kedua saya’.

Rumah adalah tempat kembali. Dan ketika rumah itu retak, wajar bila seseorang ingin memperbaikinya sebelum terlambat.

Sebelum melangkah pergi, ia meninggalkan pesan singkat yang mungkin akan menjadi mantra perjalanan ke depan, ‘PWI Lahat bersatu’.

Tidak banyak kata, tetapi cukup untuk menahan kapal agar tak terombang-ambing.
Dan dari sinilah semuanya dimulai, dengan langkah sederhana, dengan niat yang tumbuh pelan, menuju PWI Lahat yang kembali memeluk. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here