Beranda Ogan Kemering Ilir Hotspot Belum Tentu Kebakaran, Satgas OKI Intensifkan Pengecekan Lapangan

Hotspot Belum Tentu Kebakaran, Satgas OKI Intensifkan Pengecekan Lapangan

5
0
BERBAGI

OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDALAS.COM – Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mengintensifkan pengecekan langsung ke lapangan (ground check) terhadap titik panas (hotspot) yang terdeteksi satelit. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi sebenarnya di lokasi sekaligus mempercepat penanganan apabila ditemukan kebakaran agar api tidak meluas.

Berdasarkan data pemantauan pada Jumat (23/10/2026), jumlah hotspot di Kabupaten OKI tercatat sebanyak 335 titik. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.007 titik.

Meski demikian, penurunan jumlah hotspot tidak membuat petugas mengendurkan kewaspadaan. Verifikasi lapangan tetap menjadi langkah penting untuk memastikan apakah titik panas yang terdeteksi benar-benar mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan.

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki menegaskan bahwa setiap titik panas yang terpantau melalui satelit perlu diverifikasi langsung oleh petugas.

“Setiap titik panas harus dicek di lapangan untuk memastikan apakah benar ada api atau tidak. Jika ditemukan kebakaran, petugas harus segera mengambil tindakan agar api tidak meluas,” ujar Muchendi saat meninjau posko Satgas Karhutla di Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur.

Dalam kunjungan tersebut, Muchendi juga memberikan semangat kepada personel Satgas Karhutla yang terdiri atas unsur TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI. Ia mengapresiasi kesiapsiagaan seluruh personel yang terus bekerja di lapangan dalam upaya mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Muchendi, kecepatan memperoleh informasi harus diimbangi dengan ketepatan verifikasi dan respons. Dengan begitu, petugas dapat menentukan prioritas penanganan berdasarkan kondisi nyata di lokasi, sehingga upaya pencegahan maupun pemadaman dapat dilakukan secara efektif.

Sementara itu, Kepala BPBD OKI Pratama Suryadi mengatakan, pihaknya menjadikan data hotspot yang dirilis Kementerian Kehutanan melalui sistem pemantauan Sipongi sebagai salah satu acuan dalam pengawasan karhutla. Namun, data tersebut tetap harus ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung di lapangan.

“Kami mengacu pada data hotspot dari Sipongi, tetapi tetap dilakukan ground check. Belum tentu hotspot itu ada api,” kata Pratama.

Berdasarkan data pemantauan harian pada 16–23 Oktober 2026, jumlah hotspot di OKI menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Pada 16 Oktober tercatat 871 titik, kemudian meningkat menjadi 1.199 titik pada 17 Oktober. Jumlah tersebut turun menjadi 473 titik pada 18 Oktober, 386 titik pada 19 Oktober, dan 286 titik pada 20 Oktober.

Selanjutnya, jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 695 titik pada 21 Oktober dan 1.007 titik pada 22 Oktober, sebelum turun menjadi 335 titik pada 23 Oktober.

Pratama menjelaskan, satelit mendeteksi titik panas berdasarkan karakteristik suhu dan tingkat kepercayaan (confidence level) dari hasil deteksi. Data tersebut membantu petugas menentukan lokasi prioritas pemantauan, tetapi tidak serta-merta menjadi bukti terjadinya kebakaran.

Sejumlah objek dengan suhu permukaan tinggi, seperti seng atau aspal yang terpapar sinar matahari, berpotensi ikut terdeteksi sebagai titik panas. Oleh karena itu, hasil pemantauan satelit perlu diverifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

“Ketika satelit mendeteksi titik panas, personel perlu turun ke lokasi sesuai koordinat untuk memastikan apakah ada api atau tidak,” ujarnya.

Selain memanfaatkan pemantauan satelit, BPBD OKI juga mengandalkan laporan masyarakat untuk mempercepat deteksi dini kebakaran. Warga yang melihat indikasi kebakaran diimbau segera menyampaikan laporan dengan menyertakan foto atau video serta titik koordinat lokasi agar petugas dapat segera melakukan pengecekan.

“Kalau masyarakat melapor, kami minta foto, video, dan titik koordinatnya. Setelah itu, tim langsung bergerak ke lokasi tanpa harus melalui prosedur berjenjang,” kata Pratama.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan indikasi kebakaran, termasuk jika lokasi tersebut belum terpantau oleh satelit. Laporan yang akurat dan disampaikan sejak dini akan membantu petugas menjangkau lokasi lebih cepat serta mempercepat penanganan sebelum api meluas.

Melalui penguatan pemantauan, verifikasi lapangan, dan partisipasi masyarakat, Satgas Karhutla OKI berharap upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan dapat berjalan lebih cepat, tepat, dan efektif. (Ludfi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here