OGAN KOMERING ILIR, BERITAANDALAS.COM – Banjir yang melanda Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), menelan korban jiwa. Seorang anak perempuan berusia 11 tahun, warga Desa Pulu Beruang, ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya dilaporkan hilang akibat terseret arus sungai.
Korban bernama Putri ditemukan warga pada Sabtu (19/4/2025) sekitar pukul 15.30 WIB. Jasad korban ditemukan tersangkut di batang pohon di aliran Sungai Pulu Beruang, tidak jauh dari lokasi korban dilaporkan hilang.
Kepala Desa Pulu Beruang, Feri mengatakan, saat jasad korban ditemukan, pihak keluarga sudah berada di lokasi untuk melakukan proses identifikasi.
“Keluarga korban sudah berada di lokasi untuk identifikasi. Atas nama Pemerintah Desa bersama warga, kami juga menyusuri sungai untuk memastikan apakah masih ada korban lainnya,” ujar Feri.
Banjir di Kecamatan Tulung Selapan terjadi akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak Kamis (17/4/2025) malam sekitar pukul 22.31 WIB, kemudian kembali terjadi pada Ahad (20/4/2025) malam sekitar pukul 20.45 WIB.
Berdasarkan data sementara, dua desa terdampak banjir, yakni Desa Kayuara dan Desa Pulu Beruang. Selain itu, banjir juga merendam Desa Petaling yang berbatasan langsung dengan kedua desa tersebut.
Informasi bencana ini disampaikan oleh Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Kabupaten OKI. Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI masih melakukan pendataan terkait dampak banjir, baik terhadap warga maupun fasilitas umum.
Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD OKI Ir. Isa Irawan ST menyatakan, bahwa proses pendataan masih berlangsung.
“Untuk fasilitas umum dan korban banjir masih dalam pendataan. Jika sudah selesai, akan segera kami informasikan,” jelasnya.
Sampai berita ini diterbitkan, belum terlihat adanya tindak lanjut dari Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan terkait kerusakan aset yang terjadi akibat bencana.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret dengan memfasilitasi serta menindaklanjuti permasalahan tersebut. Upaya ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengajuan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di tingkat pusat.
Pasalnya, kerusakan aset yang terjadi merupakan dampak langsung dari bencana yang melanda wilayah tersebut. Oleh karena itu, masyarakat menilai penting adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah agar proses pengajuan bantuan dapat segera dilakukan.
Dengan adanya tindak lanjut tersebut, diharapkan aset yang rusak dapat segera diperbaiki bahkan dibangun kembali sehingga dapat kembali dimanfaatkan oleh masyarakat. Dukungan pemerintah dinilai menjadi kunci utama agar proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan efektif. (Ludfi)


































