
BERITAANDALAS.COM – Dibalik setiap berita yang lahir, selalu ada perjalanan panjang yang jarang terbaca. Ada peluh yang mengering sebelum sempat diceritakan, ada ragu yang dipendam sendiri, ada jatuh yang tak pernah diumumkan, dan ada bangkit yang dilakukan dalam diam. Tak sedikit pula doa-doa sunyi yang hanya didengar langit, tak pernah tercetak di kolom mana pun.
Perjalanan itulah yang saya jalani perlahan, dari bawah, dari jalanan, dari belajar sendiri hingga akhirnya memahami satu hal penting, profesionalisme bukan sekadar label, melainkan proses panjang yang menuntut keteguhan, kesabaran, dan kejujuran pada diri sendiri.
Nama saya Muhammad Ludfi, lahir di Kayuagung, 15 Mei 1995. Usia kini genap 30 tahun. Dunia jurnalistik saya kenal bukan dari bangku akademik, melainkan dari kerasnya pengalaman lapangan. Dari hari-hari belajar secara otodidak bagaimana menghimpun subjek menjadi berita, memahami etika konfirmasi, memilah fakta dari opini, hingga merangkai informasi agar layak dikonsumsi publik tanpa mengorbankan nurani.

Saya memulai karier dari titik paling dasar, wartawan jalanan. Hari-hari diisi dengan mencari berita, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghadapi penolakan narasumber, belajar menahan emosi, dan menyadari bahwa kebenaran sering kali tidak datang dengan mudah. Ia harus diperjuangkan dengan kesabaran, etika, dan ketekunan.
Tahun 2021 menjadi babak penting dalam perjalanan saya. Di tahun itu, saya bergabung dengan Ikatan Wartawan Online Kabupaten Ogan Komering Ilir (IWO OKI) dan berkecimpung hingga 2023. Dua tahun yang tidak hanya memberi saya waktu penting, tetapi juga membentuk cara pandang, kedewasaan, dan pemahaman tentang arti kebersamaan dalam profesi.

Di IWO OKI, wawasan saya bertambah, jejaring meluas, dan kepercayaan mulai tumbuh. Saya dipercaya mengemban amanah sebagai Bendahara IWO OKI, sebuah tanggung jawab yang mengajarkan kedisiplinan, transparansi, dan kejujuran dalam berorganisasi.
Bersama rekan-rekan, saya turut menyukseskan berbagai agenda penting, mulai dari perayaan Hari Kemerdekaan RI dengan lomba gaple sederhana namun penuh keakraban, peringatan HUT IWO, kegiatan donor darah sebagai wujud kepedulian sosial, hingga momentum besar penyelenggaraan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan ke-2 yang digelar IWO OKI bekerja sama dengan UPN Veteran Yogyakarta pada 2022.
Di momen itulah saya untuk pertama kalinya mengikuti UKW kelas Muda. Persiapan saya kala itu sederhana, bahkan bisa dibilang minim. Namun tekad saya bulat. Dengan segala keterbatasan, Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus dan tersertifikasi UKW Muda. Sebuah titik balik yang menguatkan keyakinan saya bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Bekal pengalaman, semangat belajar, dan keinginan untuk terus bertumbuh membawa saya bergabung dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Ogan Komering Ilir pada 2023. Proses keanggotaan saya awali dengan mengikuti orientasi di Sekretariat PWI Sumatera Selatan, hingga akhirnya dinyatakan lulus dan ditempatkan di PWI OKI.
Saat pemilihan Ketua PWI OKI, saya langsung “gaspol” ikut menyukseskan Konfercab PWI OKI sebagai bagian dari panitia. Dari forum tersebut terpilih Idham Syarief, sosok yang akrab disapa Ata, sebagai Ketua PWI OKI.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada pelantikan pengurus PWI OKI periode 2024–2027 yang digelar di Pendopoan Rumah Dinas Bupati OKI dan dihadiri langsung oleh Pj Sekda OKI Muhammad Refly S.Sos M.Si. Momentum itu menjadi penanda tanggung jawab baru bagi kami semua yang dipercaya mengemban amanah organisasi.
Usai pelantikan, saya diberi kepercayaan sebagai anggota pengurus bidang pembelaan wartawan.
Satu tahun berjalan, amanah kembali diberikan oleh Ketua dan Sekretaris PWI OKI, Ata dan Maniso, kepada saya untuk menjabat sebagai Wakil Ketua PWI OKI Bidang Aset. Bagi saya, jabatan bukanlah tujuan, melainkan tanggung jawab untuk menjaga marwah organisasi dan profesi.
Tanggal 22–23 Desember 2025 menjadi catatan penting dalam perjalanan PWI OKI. Untuk pertama kalinya, PWI OKI menggelar UKW perdana di Bumi Bende Seguguk, julukan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Momentum ini saya maknai sebagai panggilan untuk kembali menguji diri.
Setelah lulus UKW Muda pada 2022, saya memberanikan diri mengikuti UKW Madya, naik satu tingkat menuju profesionalisme yang lebih matang.
Banyak rekan wartawan yang sebelumnya pernah mengikuti kelas Madya mengatakan bahwa UKW Madya adalah kelas yang berat. Mata uji lebih kompleks, penilaian lebih ketat, dan tekanan mental jauh lebih besar.
Di penghujung 2025, UKW ini menjadi kado manis dari rumah tempat saya bernaung, PWI OKI. Harapan kembali saya panjatkan ke langit. Ingatan melayang ke tahun 2022, saat pertama kali menghadapi UKW dengan kecemasan yang sama, namun berakhir dengan kelulusan. Kali ini, bebannya terasa jauh lebih berat.
Saya memulai semuanya dengan satu kalimat sederhana, ‘Bismillahitawakkaltualallah’.
Ujian dijalani di tengah beban pikiran, kelelahan perasaan, dan persoalan hidup yang belum sepenuhnya selesai.
Namun niat dan tekad tidak goyah. Saya percaya, selalu ada campur tangan Tuhan yang bekerja di balik usaha hamba-Nya.
Hari pertama mengikuti UKW kelas Madya berjalan relatif lancar. Hari kedua menjadi ujian sesungguhnya. Dalam diam, doa kembali saya panjatkan, hingga datang satu mata uji yang benar-benar asing.
“Belum pernah saya hadapi sepanjang menjalankan profesi. Soal itu nyaris meruntuhkan seluruh harapan.” Di titik itulah saya belajar tentang toleransi dan kemanusiaan dari seorang guru penguji. Penilaian diberikan secara standar, tidak sempurna, namun cukup untuk bertahan.
Dengan kegigihan dan kesungguhan, ujian itu akhirnya terlewati. Alhamdulillah.
Hari ini, saya menyadari bahwa perjalanan belum selesai. Kompetensi jurnalistik masih harus terus diasah. Masih ada satu kelas terakhir, UKW kelas Utama, jenjang puncak menuju profesionalisme paripurna. Saya paham, ada jeda waktu dua tahun setelah lulus Madya untuk dapat mengikuti UKW Utama, dengan catatan menunggu kesempatan dan agenda yang digelar PWI OKI atau PWI Sumatera Selatan di daerah lain.
Saya tidak ingin berlari. Saya hanya ingin melangkah lebih mantap. Mengasah ilmu, memperbaiki diri, dan menjaga integritas sebagai wartawan. Karena pada akhirnya, profesionalisme bukan tentang gelar atau sertifikat semata, melainkan tentang tanggung jawab pada publik, pada nurani, dan pada kebenaran.
Perjalanan ini mungkin sederhana. Namun bagi saya, inilah makna sejati dari mengasah asa menuju profesional. (*)

































